School of Thoughts

Leave your shoes behind, and walk a mile in mine...

Monday, January 07, 2008

Pilih salah satu...

Keadilan

atau

hati nurani?

Monday, December 25, 2006

Demos Cratos

Semester ini gw ngambil matakul Political Economy of Democracy. Beuraatttthhhh... ceritanya sengaja gw ambil belakangan, pas deket-deket mau tesis, biar pelajaran yang "menguras" energi, jiwa dan raga ini tidak mengganggu aktivitas gw yang lain, dan gak ngilangin mood gw buat kuliah.

Awal semester ketika ngambil matakul ini, gw skeptis, mana bisa gw ngerti "what is democracy". Yang gw tau, it sucks! Democracy cuma bisa dipahami sama filsuf-filsuf yang terbang di awang-awang. Bukan sama orang culun bin bodo seperti gw.
But... Setelah UTS barulah gw mendapat pencerahan. Tapi bukan berarti gw tiba-tiba jadi pinter bak filsuf-filsuf tadi (gw masih tetep nana yg culun bin bodo seperti biasa). Demokrasi yang tadinya cuma cita-cita idealis yang sulit untuk diterapkan, jadi lebih realistis, *and to be honest* demokrasi jadi lebih masuk akal dan sederhana.
Kata seorang profesor ternama yang ahli di bidang ini, David Beetham, prinsip utama demokrasi adalah popular control dan political equality. Itu yang gw tau tanpa pernah gw pahami.
Dari dulu gw tau kok, kalo term demokrasi itu menjurus pada "pemerintahan oleh rakyat", karena rakyat terlalu banyak, maka dipakailah sistem "perwakilan". Di mana orang-orang yg duduk di pemerintahan adalah "orang-orang pintar" yang "dipilih" oleh rakyat sendiri untuk mewakili diri mereka yang "kurang mengerti" akan seluk beluk pemerintahan.
Tapi apakah pemahaman yang gw pahami itu bener? Kalo gitu demokrasi itu cuma hal yang indah-indah aja. Trus apakah dampak-dampak negatif yang ditimbulkan dari demokrasi itu adalah bukan demokrasi itu sendiri?
waduhhhhh...
gw bingung.
Setelah dikasih pengertian sama dosen favorit gw, si MP, gw jadi semakin memahami bahwa demokrasi itu adalah cita-cita ideal yang dalam prakteknya sering keropos, berkarat, sama berjamur. Rusak berat. apalagi prakteknya kaya negara-negara yang punya rezim transisi seperti Indonesia. Toh "biang" demokrasi sendiri, si rajadiraja Amerika Serikat, pun pelaksanaan demokrasi itu masih bobrok, apa yang bisa kita harapkan di Indonesia?.
Beberapa hari yang lalu, MP nanya, "Apa yang kamu dapetin dari matakul ini?" Gw berpikir sejenak. Dan gw ngejawab, "ah, saya jadi lebih ahli meng-kritik tanpa bisa ngasi solusi." Mendengar jawaban ini, MP cuma bengong. Entah apa yang dia maksud dari ekspresinya itu. Sampe sekarang saya masih penasaran...
-red-

Saturday, December 16, 2006

ABSEN...

Ngerasa bersalah juga sih, membiarkan blog ini tidak ter-update, dengan lama tidak "dilirik", dan bahkan "dibuka".

Suer...gak ada ide.

Mati ide.

Brain freeze.

Jadi biar ga absen-absen amat, saya memutuskan utk "setor beungeut" alias pamer muka di sini dan menyapa para pengunjung (kalo ada... :)

-red-

Wednesday, July 26, 2006

Keseimbangan yang Tak Lagi Seimbang

Hari senin tanggal 17 Juli 2006, gempa dan tsunami kembali melanda Indonesia, kali ini di sekitar pantai Selatan pulau Jawa. Saya mendengar berita tersebut justru dari seorang teman saya yang saat ini tinggal Australia. Saya sendiri sebagai orang yang tinggal di Bandung, di mana lebih dekat dengan tempat kejadian gempa, tidak mengetahui apa-apa tentang hal itu. Alasannya adalah karena saya jarang menonton televisi. Sebelumnya sudah ada gempa di Yogya dan Jawa Tengah, di Sumatera Barat, di Papua, Tsunami di Aceh, Sumatera Utara dan Nias, tanah longsor, banjir bandang, kekeringan, dan lain sebagainya. Bencana terjadi lagi.. Dua hari kemudian, Jakarta, ibu kota negara kita, pun ikut bergoyang oleh gempa yang berpusat di Selat Sunda.

Mengapa musibah terjadi terus-menerus? Hal itu selalu muncul dalam pikiran saya yang lamban ini ketika pertama kali mendengarnya. Ketika saya memikirkan jawabannya, berbagai teori muncul di benak saya, mulai dari yang ilmiah sampai sama sekali tidak ilmiah. Tapi hampir semuanya berkaitan dengan manusia serta segala “keterpusatan pada dirinya” yang disebut sebagai antroposentrisme. Manusia adalah pusat dari segala-galanya.

Ada banyak versi yang mengatakan mengapa musibah terus-terusan melanda, salah satunya adalah bentuk kemurkaan Tuhan, karena dosa-dosa yang dilakukan umat manusia. Yang lain mengatakan bahwa bumi ini sudah tua, dan sudah saatnya mendekati “kehancuran”, kerusakan lingkungan merupakan siklus kehidupan yang pasti terjadi. Ada pula yang mengatakan bahwa terdapat persekongkolan pihak-pihak yang memiliki modal yang besar baik dalam bentuk dana maupun teknologi, yang sengaja “mengirimkan” tsunami dan gempa ke Indonesia. Alasannya bermacam-macam. Pemikiran ini didasarkan pada “hujan saja ada pawangnya, maka tidak menutup kemungkinan terdapat pawang ‘tsunami’”. Memang yang terakhir ini teori konspirasi yang konyol, tapi mungkin saja terjadi. Seperti apa yang diceritakan oleh Sidney Sheldon, dalam novel terbarunya “Are You Afraid of the Dark?” bisa menjadi kenyataan. Siapa tahu?

Tapi menurut Saya, bencana alam di Indonesia akhir-akhir ini terjadi karena kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas ekonomi manusia. Bukannya saya mengesampingkan teori-teori di atas tersebut, tapi saya ingin menunjukkan penyebab lain dari musibah yang dapat kita semua ambil hikmahnya, dan berhenti menyalahkan Tuhan atas peristiwa itu. Jawabannya lagi-lagi adalah ada pada diri manusia. Kerusakan lingkungan disebabkan terutama oleh aktivitas manusia yang egois yang mengabaikan lingkungan.

Isu lingkungan hidup seperti kita semua ketahui telah lama menjadi isu yang meng-global, bukan sekedar masalah dalam negeri Indonesia saja. Adanya upaya kepedulian terhadap masalah-masalah yang mengakibatkan kerusakan lingkungan serta berpengaruh pada keberlangsungan hidup manusia secara global. Pertama kalinya isu itu diangkat sebagai agenda internasional adalah pada tahun 1972, dalam Konferensi Stockholm tentang lingkungan hidup.

Isu lingkungan hidup menjadi isu global disebabkan oleh beberapa hal (Banyu Perwita & Yanyan Mochamad Yani, 2005), pertama, permasalahan lingkungan hidup selalu membawa efek global. Seperti masalah peningkatan kadar CFC di bumi. Kedua, permasalahan lingkungan hidup juga menyangkut eksploitasi terhadap sumber daya global seperti lautan dan atmosfer. Ketiga, isu tersebut bersifat transnasional, di mana kerusakan lingkungan hidup di suatu negara akan berdampak pula bagi wilayah di sekitarnya. Keempat, banyak kegiatan eksploitasi yang menyebabkan degradasi lingkungan memiliki skala lokal, tetapi dilakukan di banyak tempat di seluruh dunia sehingga dapat dianggap sebagai masalah internasional. Dan yang terakhir, adalah karena proses yang menyebabkan terjadinya eksploitasi yang berlebihan berhubungan dengan proses-proses politik dan sosial-ekonomi yang lebih luas, di mana proses-proses tersebut merupakan bagian dari ekonomi-politik global.

Salah satu teori yang mengkritik eksploitasi manusia terhadap alamnya adalah pemikiran-pemikiran yang dikemukakan oleh Eckersley, Goodin dan Dobson (Matthew Patterson, 2001) yang disebut sebagai kelompok Green Politics. Pada dasarnya pemikiran ini adalah menekankan pada pentingnya suatu paham serta upaya yang berlandaskan pada ecocentrism, yaitu suatu bentuk penolakan atas pandangan anthropocentris atas dunia. Yang terpenting adalah keseimbangan antara alam dan manusia. Pada saat keseimbangan tadi tidak lagi bersifat seimbang, maka pada saat itulah kerusakan akan terjadi. Istilahnya adalah catastrophe, atau bencana. Jika masih dibingungkan dengan istilah antroposentrisme serta ekosentrisme, mari kita lihat ilustrasi di bawah ini.

Masih ingat beberapa waktu yang lalu, sekawanan gajah singgah di desa yang dihuni manusia, dan memorakporandakannya? Orang dengan cara berpikir antroposentris akan berkata, “bunuh saja kawanan gajah itu, karena dapat membahayakan manusia.” Namun di lain pihak, seorang yang ekosentrisme akan berkata, “salah siapa gajah-gajah itu merusak pemukiman masyarakat? Salah manusia! Karena manusia yang merusak habitat hidup gajah-gajah tersebut, dengan melakukan penebangan-penebangan hutan.”

Seorang antroposentris akan selalu mengatakan bahwa manusialah raja di muka bumi ini. Mahluk-mahluk lain hidup menumpang.
Saya tidak mengatakan bahwa cara berpikir seperti itu salah. Manusia wajib membela dirinya sendiri jika ia merasa terancam. Tapi bayangkan rentetan akibat yang terjadi hanya karena kita terlalu memikirkan diri sendiri.

Padahal masalah kerusakan lingkungan bukan merupakan masalah yang sifatnya temporer, yang jika dibiarkan berlarut-larut justru akan menimbulkan kerusakan yang lebih parah lagi. Mungkin tak akan jauh berbeda dengan apa yang diilustrasikan dalam film The Day After Tomorrow. Sebuah gambaran mengenai kiamat yang datang karena ketidakpedulian manusia terhadap lingkungannya, mempengaruhi seluruh negara dan bangsa. Tidak berlebihan, jika dikatakan bahwa manusia akan menciptakan kiamat bagi dirinya sendiri.

Pepatah mengatakan, kita tidak belajar dari pengalaman. Tetapi kita belajar dari refleksi atas pengalaman itu sendiri. Yang terpenting dalam pembelajaran kali ini adalah tentang bagaimana kita telah memperlakukan lingkungan dan alam kita sendiri. Perubahan gaya hidup, serta pentingnya nilai ekosentrisme dalam menangani masalah lingkungan mungkin akan menjadi tindakan penyelamatan, walau sekecil apapun.

Sudah saatnya kita bangkit. Tidak perlu menangisi sesuatu yang sudah lewat, dan tidak usah takut menghadapi suatu yang belum datang. Mudah bagi saya mengatakan ini, karena sampai saat ini “alhamdulillah” daerah Bandung dan sekitarnya belum terkena musibah seperti di daerah-daerah lain, kecuali masalah sampah yang terus menerus menjadi “masalah” tanpa ada solusinya.

Sekali lagi, mengapa musibah terus-menerus terjadi? Jawabannya ada dalam pikiran kita masing-masing.

-nat-

Friday, July 21, 2006

Save the Earth

Sedih juga melihat sampah yang menumpuk di kota Bandung. Dan marah ketika orang-orang yang daerahnya “menerima” limpahan sampah kota Bandung, mengadakan aksi boycott. Padahal itu hak mereka, toh. Saya pun tidak akan sudi, jika daerah di deket rumah dijadikan tempat pembuangan akhir sampah. Jadi, apa hak saya untuk marah?
Sebuah lingkaran setan yang berputar terus menerus tanpa titik akhir dan tanpa mengenal kata lelah. A akan mengakibatkan B, dan B akan mengakibatkan C, di mana C akan kembali ke A. Pembuangan sampah ke TPA-TPA baru menurut Saya tidak akan menyelesaikan persoalan apapun. Yang sebenarnya terjadi adalah “memindahkan” persoalan.
Bicara soal tumpukan sampah yang bau itu. Saya sempat berpikir, manusia kan punya otak dan pikiran, kok bisanya cuma memproduksi sampah saja! Tidak adakah hal positif yang bisa dilakukan? Misalnya dengan daur ulang (recycle). Atau memproduksi sampah menjadi sesuatu yang berguna seperti pupuk kompos (reproduksi). Atau menggunakan kembali, produk-produk yang masih bisa digunakan (reuse). Atau bahkan menanam kembali pohon-pohon yang sudah kita tebang (rehabilitasi).
Seharusnya dengan kemajuan zaman, kemampuan berpikir manusia yang bertambah hebat, serta kesadaran kritis yang terbentuk, bisa meningkatkan kondisi yang lebih baik tidak hanya untuk manusia tetapi juga untuk alam sekitar. Siapa sih yang menginginkan dirinya musnah hanya karena kesalahan yang telah dibuat?
Untuk menyelamatkan bumi ini, pertama-tama yang perlu kita miliki adalah kesadaran bahwa kita tidak tinggal sendirian di bumi yang semakin tua ini. Keseimbangan antara alam dan manusia akan menyehatkan bumi yang sering sakit-sakitan. Tindakan moral ketika berhubungan dengan alam, mungkin akan menyelamatkannya. Walau sekecil apapun.
So, save the earth…
-red-

Saturday, June 17, 2006

Modernitas Versus Tradisionalitas

Teori modernisasi lahir di tahun 1950-an di Amerika Serikat, dan merupakan respon kaum intelektual terhadap Perang Dunia, serta dianggap sebagai jalan optimis menuju perubahan (Fakih, 2003). Bangkitnya negara-negara yang baru merdeka di Asia dan Afrika yang pada mulanya merupakan negara-negara jajahan, merupakan ancaman karena banyak di antara mereka yang menganggap bahwa sosialisme adalah cara yang terbaik untuk melakukan perubahan sosial. Teori yang tumbuh dalam suasana Perang Dingin ini merupakan sebuah gagasan tentang perubahan sosial dalam rangka membendung kuatnya pengaruh sosialisme dan mendorong terciptanya suatu iklim kapitalisme di dunia.

Kaum modernis menggambarkan bahwa modernisasi adalah suatu proses yang mengubah nilai-nilai, perilaku, dan kebiasaan tradisional menjadi sesuatu yang lebih “modern” (Martinussen, 1997). Melalui dominasi ekonomi dan kontrol politik, negara-negara industri telah menyuapkan bentuk “modern” dan kebudayaan-yang-mendukung-pembangunan yang dimilikinya kepada negara-negara yang tertinggal. Dalam hal ini mereka menyebut negara dunia ketiga sebagai “backward countries” dengan segala nilai, institusi, kondisi internal, serta tradisi-yang-menghalanghalangi-pembangunan yang menyertainya harus direkonstruksi atau dirombak menjadi sesuatu yang modern. Intinya “kalau mau maju, harus bisa seperti kami. Kami saja bisa, mengapa anda tidak?” Kemajuan menurut kaum modernis adalah suatu kenaikan yang linear, mengikuti satu garis lurus.

Negara-negara yang berjalan mundur itu benar-benar hanya dianggap sebagai objek penderita yang seharusnya “belajar” dari negara-negara maju. Padahal sesuatu itu belum tentu benar-dan-salah atau hitam-dan-putih. Selalu ada daerah abu-abu, dimana yang salah belum tentu salah, dan yang benar belum tentu benar. Apalagi dengan latar belakang sejarah dan kebudayaan yang berbeda pula. Pembangunan yang dicita-citakan oleh kaum modernis belum tentu diinginkan oleh masyarakat “backward-countries” tadi. Sebagai contoh: salah satu kondisi yang dicita-citakan itu adalah situasi yang kondusif bagi terciptanya suatu iklim yang sehat bagi (terlalu berbelit-belit!) terciptanya perusahaan-perusahaan multinasional atau transnasional di negara-negara tersebut. Para ahli ekonomi neo-klasik menyimpulkan bahwa TNC/MNC memiliki jaringan yang menguntungkan bagi perekonomian negara berkembang. Dengan kata lain, negara berkembang membutuhkan dan dapat mengambil keuntungan dari partisipasi TNC dalam pembangunan industri. Jadi, sudah seharusnya TNC/MNC tersebut mengambil keuntungan pula dari negara yang bersangkutan. Apakah memang demikian adanya? Ini pembangunan atau kolonialisme jenis baru?

Apakah pembangunan itu selalu mengubah yang tradisional menjadi modern, atau dari sektor pertanian menjadi sektor industri?

Di sini dapat kita lihat, kapitalisme global yang digerakkan oleh kaum neo-liberalisme ini lebih bersifat eksklusif. Kaum termarginal, yang merupakan mayoritas penduduk di dunia, yang gagal mengambil manfaat dari kapitalisme, seolah-olah hidup di luar sistem. Tidak terjangkau. Fernand Braudel menyatakan bahwa the key problem is to find out why that sector of society of the past, which I would hesitate to call capitalist, should have lived as if in a bell jar, cut off from the rest; why was it not able to expand and conquer the whole society?(de Soto, 2000). Bell Jar membuat kapitalisme hanya sebuah klub pribadi yang eksklusif, di mana jutaan orang lainnya memandang ke dalam.


Pembangunan yang baik adalah yang dapat mencakup dan digerakkan oleh semua pihak, tidak hanya segelintir atau sebagian kecil orang saja. Para ahli teori modernisasi berkata seolah-olah orang-orang yang tidak menganut gaya hidup modern tidak akan terkena dampak positif pembangunan. Sehingga orang-orang berlomba-lomba untuk menjadi “modern” dengan sekedar mengganti kain sarung dengan celana jeans, atau berlomba-lomba melakukan mobilisasi ke kota, dengan anggapan bahwa kota adalah surganya modernisasi, atau anggapan “bahwa kerja dipabrik lebih keren daripada kerja jadi petani” (bah!). Nilai-nilai dangkal seperti itulah yang merusak identitas bangsa Indonesia. Padahal pembangunan tidak selalu berarti ‘modern’. Dan sesuatu yang ‘modern’ belum tentu berdampak positif untuk pembangunan. Malah yang terjadi sebaliknya. Modernisasi yang dipaksakan ditelan mentah-mentah akan berakibat buruk bagi pembangunan.

Mencermati realita perekonomian Indonesia dalam konteks ekonomi global, Sjahrir (2001) mengemukakan bahwa, suasana internal dan eksternal ekonomi Indonesia pada saat ini menunjukkan fenomena yang kurang menggembirakan (salah satu sifat orang Indonesia yang selalu mengambil sisi positif dari musibah…sudah jelas Indonesia terpuruk, tapi menyebutnya sebagai fenomena yang kurang menggembirakan!!!), antara lain: semakin meningkatnya harga barang (tingkat inflasi yang tinggi), pengangguran yang semakin membengkak (apalagi pengangguran yang terjadi pada kaum intelektual), kemiskinan struktural yang semakin memilukan, utang yang semakin menggunung baik pada luar negeri maupun dalam negeri, dan pertumbuhan ekonomi yang semakin rendah. Hal ini akan mempengaruhi kondisi sosial politik dan semakin rawannya disintegrasi bangsa, serta potensi konflik atau kerusuhan yang terjadi di tingkat masyarakat lapisan bawah (grass-root) cenderung semakin terbuka.

Pembangunan ekonomi yang mengutamakan pertumbuhan ekonomi yang dilaksanakan Indonesia selama ini, secara empiris telah menghasilkan multikrisis yang berkepanjangan. Dengan kata lain, konsep pembangunan yang didasari oleh teori modernisasi ini seringkali merusak nilai/norma tradisional, berkarakter teknokratik, menciptakan kesenjangan sosial ekonomi, dan membuat masyarakat teralienasi dari lingkungannya.
-red-

Monday, May 29, 2006

Power...

Tampaknya kita hidup dalam realitas di mana semakin hari, power merupakan prioritas utama dalam hidup. Baik disadari maupun tidak disadari, atau bahkan disangkal.
humble is nothing;
wealth, talent, and intelligent is something;
and power is everything!
Siapa sih yang mau hidup tanpa memiliki arti apa-apa di mata orang lain? Sebagian orang mungkin, tetapi hanya sedikit yang mampu membuktikan diri dan ujung-ujungnya pasti pembuktian diri, entah terhadap siapapun itu. Bisa pembuktian diri terhadap Tuhan, sesama manusia, atau dirinya sendiri. Sisanya? Oportunis! Yang sepanjang hidupnya mengejar-ngejar kekuasaan dan kekuatan, dan kalo ga mampu punya, ya mereka “menjilat” orang-orang yang punya hal tersebut.

Liat aja orang-orang yang selama hidupnya punya power, begitu kehilangan semuanya, bisa tiba-tiba jatuh sakit! Kenapa? mungkin karena ga sanggup kehilangan power, atau takut tiba-tiba segala sesuatu yang pernah dimilikinya hilang, sia-sia bagai ditelan bumi, lenyap tanpa bekas.

Sekali lagi, power is everything. You are nothing when you don’t have it.

-red yang selalu bertanya-

Web Site Counter
Free Hit Counter